BMKG: Waspada! Banjir Rob Ancam Pesisir Indonesia di Februari 2025
Fenomena ini terutama disebabkan oleh adanya fase bulan purnama yang terjadi pada 12 Februari 2025
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi banjir pesisir atau banjir rob yang diprediksi akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia selama bulan Februari 2025.
TIMES.id - Fenomena ini terutama disebabkan oleh adanya fase bulan purnama yang terjadi pada 12 Februari 2025, yang berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum. Kondisi ini dapat berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar wilayah pesisir.
Berikut beberapa wilayah pesisir yang diprediksi mengalami banjir rob beserta periode waktunya.
1. Pesisir Nusa Tenggara Timur
- Pulau Flores bagian utara dan selatan 7–13 Februari 2025
- Pulau Sumba 7–14 Februari 2025
- Pulau Sabu-Raijua 7–14 Februari 2025
- Pulau Timor-Rote 7–13 Februari 2025
2. Pesisir Kalimantan Selatan
- Perairan Muara Sungai Barito dan Perairan Kotabaru 8–15 Februari 2025
3. Pesisir Sulawesi Utara
- Pesisir Utara Sulawesi Utara 10–14 Februari 2025
- Pesisir Bitung 10–14 Februari 2025
- Pesisir Likupang 10–14 Februari 2025
- Pesisir Utara dan Timur Kepulauan Sangihe 10–14 Februari 2025
- Pesisir Utara dan Timur Kepulauan Talaud 10–14 Februari 2025
4. Pesisir Maluku Utara
- Pesisir Loloda, Morotai, Tobelo, Ternate, dan Talibu 11–15 Februari 2025
5. Pesisir Papua Selatan
- Pesisir Merauke 14–18 Februari 2025
- Pesisir Selat Muli 11–15 Februari 2025
Informasi ini diperoleh dari laporan BMKG yang dirilis pada 9 Februari 2025.
Banjir rob terjadi akibat kombinasi antara pasang air laut yang tinggi dan kondisi meteorologis tertentu, seperti angin kencang yang mendorong air laut ke daratan.
Pada periode bulan purnama, gaya gravitasi bulan terhadap bumi mencapai puncaknya, menyebabkan peningkatan signifikan pada ketinggian pasang air laut.
Kondisi ini diperparah dengan adanya angin muson yang kuat, yang dapat meningkatkan tinggi gelombang dan mendorong air laut lebih jauh ke daratan.
Dampak dari banjir rob meliputi terendamnya pemukiman warga, lahan pertanian, dan fasilitas umum di sekitar pesisir. Aktivitas ekonomi seperti perikanan, tambak garam, dan operasional pelabuhan juga dapat terganggu.
Selain itu, infrastruktur seperti jalan raya dan jembatan di dekat pesisir berisiko mengalami kerusakan akibat genangan air yang berkepanjangan.
BMKG mengimbau masyarakat yang berada dan beraktivitas di sekitar wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi banjir rob ini. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Memantau Informasi Cuaca dan Pasang Surut
Masyarakat diharapkan untuk secara rutin memantau informasi terkini mengenai cuaca maritim dan prediksi pasang surut air laut yang disediakan oleh BMKG melalui situs resmi atau aplikasi mobile.
- Mengamankan Barang Berharga Warga yang tinggal di daerah rawan banjir rob disarankan untuk mengamankan barang-barang berharga dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari kerusakan akibat genangan air.
- Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat perlu menyiapkan rencana evakuasi dan memastikan seluruh anggota keluarga mengetahui langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi banjir.
- Menghindari Aktivitas di Area Rawan
Selama periode potensi banjir rob, disarankan untuk menghindari aktivitas di area yang rentan terhadap genangan air, seperti tepi pantai, dermaga, dan area tambak.
Selain itu, BMKG juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya. Diharapkan dengan adanya koordinasi yang baik antara pihak-pihak terkait, dampak dari banjir rob dapat diminimalisir.
Pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi terdampak diharapkan untuk proaktif dalam menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemetaan Daerah Rawan Melakukan pemetaan wilayah yang rentan terhadap banjir rob dan mensosialisasikan informasi tersebut kepada masyarakat setempat.
- Peningkatan Infrastruktur Memastikan infrastruktur penahan banjir, seperti tanggul dan drainase, dalam kondisi baik dan mampu berfungsi optimal saat terjadi pasang maksimum.
- Penyediaan Posko Siaga Mendirikan posko siaga di lokasi strategis untuk memantau kondisi secara real-time dan memberikan bantuan cepat jika diperlukan.
![]() |
Ilustrasi banjir. Foto: pixabay/@j_lloa |
TIMES.id - Fenomena ini terutama disebabkan oleh adanya fase bulan purnama yang terjadi pada 12 Februari 2025, yang berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum. Kondisi ini dapat berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar wilayah pesisir.
Berikut beberapa wilayah pesisir yang diprediksi mengalami banjir rob beserta periode waktunya.
1. Pesisir Nusa Tenggara Timur
- Pulau Flores bagian utara dan selatan 7–13 Februari 2025
- Pulau Sumba 7–14 Februari 2025
- Pulau Sabu-Raijua 7–14 Februari 2025
- Pulau Timor-Rote 7–13 Februari 2025
2. Pesisir Kalimantan Selatan
- Perairan Muara Sungai Barito dan Perairan Kotabaru 8–15 Februari 2025
3. Pesisir Sulawesi Utara
- Pesisir Utara Sulawesi Utara 10–14 Februari 2025
- Pesisir Bitung 10–14 Februari 2025
- Pesisir Likupang 10–14 Februari 2025
- Pesisir Utara dan Timur Kepulauan Sangihe 10–14 Februari 2025
- Pesisir Utara dan Timur Kepulauan Talaud 10–14 Februari 2025
4. Pesisir Maluku Utara
- Pesisir Loloda, Morotai, Tobelo, Ternate, dan Talibu 11–15 Februari 2025
5. Pesisir Papua Selatan
- Pesisir Merauke 14–18 Februari 2025
- Pesisir Selat Muli 11–15 Februari 2025
Informasi ini diperoleh dari laporan BMKG yang dirilis pada 9 Februari 2025.
Banjir rob terjadi akibat kombinasi antara pasang air laut yang tinggi dan kondisi meteorologis tertentu, seperti angin kencang yang mendorong air laut ke daratan.
Pada periode bulan purnama, gaya gravitasi bulan terhadap bumi mencapai puncaknya, menyebabkan peningkatan signifikan pada ketinggian pasang air laut.
Kondisi ini diperparah dengan adanya angin muson yang kuat, yang dapat meningkatkan tinggi gelombang dan mendorong air laut lebih jauh ke daratan.
Dampak dari banjir rob meliputi terendamnya pemukiman warga, lahan pertanian, dan fasilitas umum di sekitar pesisir. Aktivitas ekonomi seperti perikanan, tambak garam, dan operasional pelabuhan juga dapat terganggu.
Selain itu, infrastruktur seperti jalan raya dan jembatan di dekat pesisir berisiko mengalami kerusakan akibat genangan air yang berkepanjangan.
BMKG mengimbau masyarakat yang berada dan beraktivitas di sekitar wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi banjir rob ini. Beberapa langkah yang disarankan meliputi:
- Memantau Informasi Cuaca dan Pasang Surut
Masyarakat diharapkan untuk secara rutin memantau informasi terkini mengenai cuaca maritim dan prediksi pasang surut air laut yang disediakan oleh BMKG melalui situs resmi atau aplikasi mobile.
- Mengamankan Barang Berharga Warga yang tinggal di daerah rawan banjir rob disarankan untuk mengamankan barang-barang berharga dan dokumen penting ke tempat yang lebih tinggi guna menghindari kerusakan akibat genangan air.
- Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat perlu menyiapkan rencana evakuasi dan memastikan seluruh anggota keluarga mengetahui langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi banjir.
- Menghindari Aktivitas di Area Rawan
Selama periode potensi banjir rob, disarankan untuk menghindari aktivitas di area yang rentan terhadap genangan air, seperti tepi pantai, dermaga, dan area tambak.
Selain itu, BMKG juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai potensi banjir rob dan langkah-langkah mitigasinya. Diharapkan dengan adanya koordinasi yang baik antara pihak-pihak terkait, dampak dari banjir rob dapat diminimalisir.
Pemerintah daerah di wilayah yang berpotensi terdampak diharapkan untuk proaktif dalam menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan antara lain:
- Pemetaan Daerah Rawan Melakukan pemetaan wilayah yang rentan terhadap banjir rob dan mensosialisasikan informasi tersebut kepada masyarakat setempat.
- Peningkatan Infrastruktur Memastikan infrastruktur penahan banjir, seperti tanggul dan drainase, dalam kondisi baik dan mampu berfungsi optimal saat terjadi pasang maksimum.
- Penyediaan Posko Siaga Mendirikan posko siaga di lokasi strategis untuk memantau kondisi secara real-time dan memberikan bantuan cepat jika diperlukan.
Posting Komentar